Minggu, 08 Mei 2016

OBYEK DAYA TARIK WISATA KAWASAN KOTAGEDE




SEJARAH KOTAGEDE

            Kota ini merupakan kawasan bersejarah yang merupakan The Old Capital City yang menyimpan sejarah mengenai lahirnya Mataram Islam.Berawal dari berdirinya sebuah kerajaan di tengah hutan pada tahun 1575 yang diprakarsai oleh Ki Ageng Pemanahan yang merupakan asal mula berdirinya kerajaan Mataram.Seluruh tanah Jawa merupakan daerah kekuasan dari kerajaan Mataram Hindu.Kerajaan tersebut mempunyai peradaban yang luar biasa dan kemakmuran masyarakat yang berkecukupan sehingga mampu membangun candi-candi yang megah dengan arsitektur yang menawan Seperti Candi Borobudur.Sekitar abad ke-10 kerajaan ini memindahkan pemerintahannya ke Jawa Timur sehingga rakyat berbondong-bondong meninggalkan Mataram sampai akhirnya habis dan wilayah ini kembali sepi dan menjadi hutan kembali.Sekitar 6 abad kemudian, Pulau Jawa merupakan kekuasaan dari Kesultanan Pajang yang berpusat di Jawa Tengah.Sultan Hadiwijaya yang berkuasa saat itu memberi hadiah kepada Ki Gede Pemanahan karena prestasinya dalam mengalahkan musuh-musuh dari kerajaan. Hadiah tersebut berupa hutan yang dikenal dengan nama Alas Mentaok. Ki Gede Pemanahan beserta keluarga dan pengikutnya akhirnya pindah ke tempat tersebut yang sebenarnya merupakan hutan bekas kerajaan Mataram Hindu pada waktu yang lalu.
Ki Gede Pemanahan membangun desa kecil di hutan tersebut dan perlahan-lahan desa tersebut semakin berkembang sampai Ki Gede Pemanahan wafat.Kepemimpinan selanjutnya diteruskan oleh puteranya yang bergelar Senopati Ingalaga. Desa tersebut di bawah kepemimpinan Senopati Ingalaga tumbuh dan terus berkembangan dengan pesat sehingga berubah menjadi sebuah kota yang sangat ramai dan makmur dan akhirnya disebut dengan Kotagede atau Kota Besar.Dalam kiprahnya sebagai pemimpin, Senopati Ingalaga juga membangun benteng dalam ( cepuri ) yang cakupannya mengelilingi kraton dan juga dibangun benteng luar ( baluwarti ) yang mengelilingi wilayak kota seluas sekitar 200 Ha. Selanjutnya Senopati Ingalaga menjadi raja pertama Mataram Islam yang bergelar Penembahan Senopati dengan pusat pemerintahanya di Kotagede.Selanjutnya dibawah kepemimpinan Panembahan Senopati, kerajaan Mataram yang dipimpinnya berhasil memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke Pati, Madiun, Kediri dan Pasuruan.Hampir seluruh Tanah Jawa menjadi wilayah kekuasaanya kecuali Batavia dan Banten.Kerajaan Mataram Islam ini mencapai puncak kejayaan pada masa kepemimpinan raja yang ke-3 yaitu Sultan Agung yang merupakan cucu dari Panembahan Senopati.Sultan Agung dalam pemerintahannya pada tahun 1613 memindahkan pusat kerajaan ke wilayah Karta Pleret Bantul. Tempat-tempat ini juga banyak menyimpan sejarah yang luar biasa bila dibuka.Tampat-tempat tersebut meliputi : Masjid Agung Kotagede, Makam Raja-Raja Mataram, Pasar Kotagede dan sejumlah peninggalan sejarah Mataram yaitu Situs Watu Gilang. Di tempat ini juga dapat bekas reruntuhan benteng yang dapat ditemukan di kawasan tertua di daerah ini.Anda juga dapat melihat toponim perkampungan yang masih mempertahankan tata kotanya seperti jaman dahulu.

KAWASAN MASJID KOTAGEDE 


Masjid Kotagede Yogyakarta adalah salah satu masjid  tertua di Yogyakarta. Bangunan ini merupakan masjid peninggalan Mataram yang masih bisa dilihat sekarang dan juga masih dipakai sebagaimana fungsinya .Di kotagede Yogyakarta memang terdapat banyak peninggalan bersejarah yang menyimpan informasi pada masa kerajaan Mataram. Salah satu tempat bersejarah di kota ini adalah Masjid Agung Kotagede yang dibangun pada zaman kerajaan Mataram pada tahun 1640 oleh Sultan Agung bergotong-royong dengan masyarakat setempat yang pada umumnya waktu itu beragama Hindu dan Budha.Di halaman Masjid akan didapati sebuah pohon beringin tua yang umurnya sudah ratusan tahun yang bernama Wringin Sepuh, Pohon tersebut oleh masyarakat sekitar dianggap keramat dan diyakini membawa berkah bagi siapa saja yang mau bertapa di bawah pohon tersebut. Disekitar pohon tersebut terdapat parit yang mengelilingi Masjid.Parit tersebut dahulu dipakai untuk tempat berwudhu tetapi sekarang dipergunakan sebagai tambak.
Masjid Kotagede Yogyakarta yang sudah berusia ratusan tahun memiliki sebuah prasasti yang menyebutkan bahwa Masjid tersebut dibuat dalam dua tahap.Tahap pertama dibangun pada masa Sultan Agung yang berhasil membangun inti masjid yang berukuran kecil yang disebut langgar. Tahap kedua masjid ini dibangun oleh Raja Kasunanan Surakarta, Paku Buwono X. Ada perbedaan pada bangunan masjid tersebut yang dibangun oleh Sultan Agung dan Paku Buwono X pada tiangnya. Tiang masjid yang dibangun Sultan Agung berasal dari kayu, sedangkan tiang yang dibangun oleh Paku Buwono X berbahan dari besi.Masjid ini sampai saat ini tetap dipakai untuk tempat beribadah umat Islam warga setempat.Bangunan tersebut merupakan bentuk toleransi antara umat beragama waktu itu.Sebagian besar waktu itu warga masih memeluk agama Hindu dan Budha dan dengan senang hati ikut membantu pembangunan masjid ttersebut.Ciri khas Hindu dan Budha terlihat dari tiang dari kayu yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Agung yaitugapura masjid yang berbentuk Paduraksa.Bangunan masjid tersebut berbentuk limasan yang dapat dilihat dari atapnya yang bebentuk limas dan ruangan terbagi menjadi dua, yaitu inti dan serambi.Masjid ini terdapat sebuah bedug yang berusia cukup tua yang dahulu merupakan hadiah dari Nyai Pringgit dan sampai sekarang bedug tersebut masih dipakai sebagai penanda waktu untuk berdoa.
Di dalam masjid terdapat sebuah mimbar yang dipakai untuk berkhotbah yang terbuat dari kayu ukir yang merupakan hadiah dari Sultan Palembang kepada Sultan Agung, tetapi mimbar ini sekarang sudah tidak dipergunakan lagi.Selanjutnya jika wisatawan berjalan ke halaman masjid maka dapat dijumpai adanya perbedaan tembok pada sebelah kiri halaman masjid.Tambok sebelah kiri terlihat tersusun dari bata merah yang ukurannya lebih besar dengan warna merah tua dan terdapat sebuah batu seperti marmer yang permukaanya ditulis aksara jawa. Sedangkan tembok yang lain memiliki batu-bata yang lebih kecil dan berwarna muda dan polos. Ternyata tembok yang berada di sebelah kiri dibangun pada masa Sultan Agung, sementara tembok yang lain merupakan hasil renovasi dari Paku Buwono X. 

1. Sturktur Organisasi Masjid Kotagede
    1. Sesepuh   : Masyarakat dan Keraton
    2. Penasihat
    3. Ketua
    4. Sekretaris
    5. Bendahara
    6. Sie Peribadatan dan Pendidikan
    7. Sie Sosial
    8. Sie Remaja 
    9. Sie Kemanan
    10. Sie Rumah Tangga
*Contoh partipasi yang ada di keengurusan adalah dari
·         Sie pendidikan :menggelar pengajian 5 kali pengajian setiap Minggu dari malam Selasa hingga malam Sabtu.  Setiap malam Selasa diadakan pengajian tentang Hadis, malam Kamis pengajian tentang akidah, malam Jumat tentang perbaikan bacaan Al-quran , dan malam Sabtu pengajian umum. Selain itu, juga ada TPA setiap hari Selasa, Kamis, Jumat.
·         Sie peribadatan : memperispakan imam dan muadzin untuk shalat lima waktu, kemudian memperiapkan shalat jum’at seperti mempersipakan seorang khotib, menyiapkan tempat parker, tikar. 
   
2. Atraksi
Untuk atraksi tidak ada dikarenakan masjid Kotagede sendiri fungsinya memang hanya untuk tempat ibadah, akan tetapi jika ada wisatawan yang datang ingin mengetahui sejarah dari masjid kota gedhe pihak Sekretariat akan menjelaskannya.

S    3. Sasaran Pasar
Masjid Kota Gedhe sendiri fungsinya adalah tempat untuk beribadah umat islam, jadi tidak ada sasaran pasar yang di tuju, akan tetapi wisatawan yang banyak datang ke masjid kota gede sendiri beragam. Untuk wisatawan asing yang sering berkujung adalah dari Jepang sedangkan untuk wisatwan local ada mahasiswa dan anak-anak dari sekolah dasar 

       4. Target jumlah kunjungan
Masjid Kotagedetidak  memiliki jumlah target kunjungan. Akan tetapi masjid ini selalu ramai di kunjungi setiap musim liburaan sekolah dan jumlah kunjungannya selalu meningkat dari hari-haari biasanya. Seiring dengan kepopuleran dan fungsinya, banyak masyarakat yang mengunjungi tempat ini hingga terkadang di gunakan sebagai tempat prewedding

      5. Waktu Penyelenggaraaan
Masjid Kotagede selalu buka setiap 24 jam dan untuk seketariat masjid ini buka setiap hari pada pukul 09.00-15.30 WIB.

      6.  Amenitas dan Fasilitas
Amenitas dari masjid Kotagede yaitu 4 toilet ,toko souvenir, tempat wudhu putri dan putra, parkir area,  dan ruang seketariat. Sedangkan fasilitasnya yaitu, papan penunjuk jalan,papan informasi, kursi dan meja untuk TPA, sajadah, tikar, rak sepatu, mukenah, sarung, buku bacaan, almari, al-quran, tempaat sampah, AC, pengharum ruangan, sandal, proyektor, mimbar, mikrofon, bedug.



.     7. Akses
Masjid Kotagede berlokasi di Jalan Watu Gilang, Kota Gede Yogyakarta. Lokasinya sangat strategis, karena berada sekitar 5km dari pusat kota.Dapat di akses dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.Jika menggunakan Trans Jogja dari terminal Giwangan dapat di tempuh dengan trayek 3A. Kemudian menuju ke arah barat, melewati pasar lalu lurus hingga ke Jalan Watu Gilang dan ke selatan hingga menemukan papan nama Masjid Agung Kota Gede.

    Catatan Kritis
Menurut saya, masjid Kotagede sudah sangat terawat baik untuk lingkungan luar maupun dalamnya.Selain itu sudah memiliki fasilitas yang sangat memadai dan sudah ada perkembangan yang sangat pesat seperti penambahan bangunan toilet.Di karenakan, toilet untuk wanita sangat minim, sehingga banyak orang yang mengantri.Alangkah lebih baik jika tempat parkir di Masjid Kotagede tidak jadi satu dengan tempat parkir untuk ke tempat ziarah makam.Agar pengunjung yang ingin datang ke Masjid tidak perlu membayar uang parker dan tidak perlu berjalan lebih jauh dari masjid ke tempat parkir. Selain itu, fasilitas seperti sandal perlu di tambah baik dari sisi pintu depan maupun belakang.

KAWASAN MAKAM KOTAGEDE



Makam raja-raja di Kota Gede dikenal dengan nama Kagungandalem Pasareyan Hastana Kitha Hageng. Tempat ini dibangun oleh Ki Ageng Pamanahan tahun 1579 sebagai tempat kediamannya di alas menthaok. Sultan Hadiwijoyo memberikan tanah ini kepada Ki Ageng Pamanahan dan berkedudukan sebagai tanah perdikan, setelah ia berhasil membunuh Ario Panangsang yang menjadi musuh kerajaan Pajang. Setelah Ki Ageng Pamanahan wafat 1586, Panembahan Senopati (putra Ki Ageng) menyatakan berdirinya kerajaan Mataram Islam dengan kraton Mataram pertama di dusun Dalem.Kemudian dijadikan makam keluarga raja oleh Panembahan Senopati.Pasereyan Hastana Kitha Hageng seluas 5,5 ha ini terdiri dari : Komplek abdi dalem dimana terdapat 1 pohon beringin tua. Sebagian komplek ini dijadikan areal parkir bagi pengunjung yang datang.Komplek Masjid Gede Mataram yang juga merupakan masjid tertua kedua setelah masjid Demak. Masjid ini dibangun oleh Panembahan Senopati, serambi masjid dibangun oleh Sultan Agung Hanyakrokusumo dan emperan serta kuncung dibangun oleh Susuhunan Paku Buwono X. Komplek Pasangrahan dan komplek sendang kakung maupun putri dengan luas masing-masing 1 ha dan terakhir adalah komplek makam hastana kitha hageng seluas 1,5 ha.


Di sini terdapat 627 makam termasuk 81 dalam blok Proboyekso.Beberapa leluhur Mataram yang sangat dikenal yang dimakamkan di sini : Nyi Hageng Nis, Penembahan Jayaprana, Ki Datuk Palembang (Sultan Pajang), Ki Ageng Pamanahan, Ki Jurumertani, Panembahan Senopati, Kanjeng Sinuhun Hanyakrawati, Kanjeng Ratu Retno Dumilah, Kanjeng Ratu Kalinyamat, Kanjeng Ratu Retno Tinumpuk, Kanjeng Ratu Kencana, Sultan Hamengku Buwono I dan II, KGPAA I-IV dan Ki Ageng Mangir serta masih banyak lagi. Setiap pengunjung yang datang, bisa memperoleh daftar lengkap nama mereka yang dimakamkan di sini, sejarah singkat makam Kutho Gede dan silsilah raja-raja Mataram Islam. Sudah lama komplek makam ini tertutup untuk makam baru.
Bangunan yang ada dalam komplek makam ini berjumlah 15 buah terdiri dari : bangsal kencur, bangsal pengapit makam, bangsal duduk, bangsal pengapit masjid, masjid gede Mataram, bangsal sentulan kiri kanan, bangsal penjaga dan gudang, bangunan sendang kakung, putri, serta bangunan makam proboyekso dan bangunan makam KGPAA II-IV. Untuk merawat seluruh bangunan termasuk kebersihan dalam komplek, menjadi tanggung jawab para abdi dalem juru kunci pasareyan kutho gede. Karena termasuk benda cagar budaya, maka biaya renovasi dan konbloknisasi menjadi tanggung jawab Pemda DIY melalui dinas Pariwisata. Namun biaya listrik menjadi tanggungan kraton Yogya maupun Solo.


  1. Struktur Organisasi Makam Kotagede
  1. Kanjeng
  2. Lurah
  3. Pnegirit
  4. Anak buah


Contoh partisipasi :
·         Para abdi mengelola makam dan sendang seliran  serta mengabdi sebagai abdi dalem Keraton.
·         Komplek makam Kutho Gede dikelola oleh 54 orang addi dalem, 34 abdi dalem Kraton Yogyakarta dan 20 orang adbi dalem Kraton Surakarta

      2.      Atraksi
Sendang seliran dan makam Raja Mataram menjadi daya tarik sendiri karena menyimpan banyak sejarah dan kepercayaan tersendiri di setiap spotnya.Selain itu adanya kegiatan seperti setiap malam Jumat Pon diadakan acara untuk memperingati meninggalnya Panembahan Senopati, lalu Selasa wage adanya kerja bakti bersih makam kemudian ada acara Kirap nawu sendang seliran dan Jagan Masjid setiap 1 tahun sekali.

      3.      Sasaran pasar
Untuk sasaraan pasar di makam Raja Mataram Kotagede ini tidak ada dikarenakan fungsi utama nya adalah hanya untuk makam Keluarga Kerajaan.Tetapi banyak wisatawan local maupun asing yang berkunjung ketempat ini dengan tujuan masing-masing seperti untuk keperluan bersemedi atau tirakat, untuk berziarah, untuk belajar sejarah dan lain-lain.

      4.      Target jumlah kunjungan
          Di makam Raja Mataram Kotagede tidak memiliki target karena tempat ini fungsinya bukan untuk tempat wisata selain itu para abdi tidak menargetkan jumlah kunjungan karena tugas utama mereka adalah mengelola makam dan mengabdi  kepada Raja. Namun, setiap bulannya makam Kotagede selalu di kunjungi oleh wisatawan sekitar 3000 orang per buan dan 75% diantaranya adalah para wisatawan religi. Selain itu, untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, setiap bulan April kawasan makam Kotagede mengadakan upacara nguras atau nawuh sendang dan nguras jagan masjid.Acara dimulai dengan doa/tahlil pada malam sebelum upacara prosesi, prosesi gunungan yang berisikan makanan kuliner khas Kota Gede dan nguras sendang serta jagan mesjid itu sendiri.Prosesi dimulai dari Balai Kelurahan Jagalan menuju masjid gede Mataram.Setelah acara prosesi dan makan bersama, pengunjung dan para peziarah dihibur dengan berbagai kesenian tradisional.
 
     5.      Waktu penyelenggaraan
·         Senin                            10.00 – 13.00 WIB
·         Kamis                            10.00 – 13.00 WIB
·         Jumat                            13.00 – 15.00 WIB
·         Minggu                          10.00 – 13.00 WIB
·         Tiket masuk                    : Rp 5000/orang
·         Sewa baju                       : Rp 10.000/orang

      6.      Amenitas

Toko souvenir, saung untuk tempat beristirahat, toilet umum, tempat parker, tempat ganti pakaian untuk masuk ke makam, pakaian ganti.

      7.      Akses
Makam ini terletak di Dusun Dondongan, Desa Jagalan Kotagede, Bantul, Yogyakarta.Di lokasi makam ini dekat dengan Masjid Kotagede yang juga menjadi bagian dari sejarah.Untuk menuju ke lokasi ini bisa menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum menggunakan transjogja atau jasa rental mobil jogja. Dapat di tempuh sekitar 5 Km dari pusat Kota Yogyakarta


   Catatan Kritis
Perlunya peningkatan sumber daya manusia khusunya dalam penguasaan bahasa asing untuk para abdi dalem mengingat adanya banyak wisatawan asing yang berkunjung ke Makam Kotagede ini.Selain itu, lebih di tingkatkan kembali kebersihan tempat serta penyediaan sarana dan prasarana yang sangat memadai.Pembelajaran dan pelatihan bahasa asing perlu di terapkan dan diajarkan kepada semua abdi yang mengelola Makam Kotagede, untuk membantu wisatawan asing berkomunikasi. Perlu adanya penambahan guide local yang mampu menjelaskan filosofi tentang makam Kotagede. Selain itu, lebih di tingkatkan kembali promosi dan pemasaran tenang kawasan Makam Kotagede, karena tempat ini adalah salah satu tempat warisan dan cagar budaya yang harus tetap di jaga serta di lestarikan.







Jumat, 11 Maret 2016

KESENIAN INDONESIA "PAGELARAN TARI KLASIK JAWA"



PENTAS PAKET WISATA KERATON YOGYAKARTA
UKM SWAGAYUGAMA 
 
Sejarah 
            UKM SWAGAYUGAMA (Unit Kegiatan Mahasiswa Seni Jawa Gaya Yogyakarta Universitas Gadjah Mada ) merupakan organisasi kemahasiswaan intra-universitas yang peduli pada pengembangan dan pelestarian kesenian tradisional jawa, khususnya tari dan karawitan gaya Yogyakarta. UKM Swagayugama berdiri pada tanggal 6 Maret 1968 telah menyajikan pementasan di banyak panggung dalam berbagai acara. Salah satu pentas rutinnya di selenggarakan di Bangsal Srimanganti, Kraton Yogyakarta.
            Tujuan organisasi ini adalah memberikan wadah bagi para peminat kesenian tardisional kepada para mahasiswa UGM. Melalui kegiatan ini, seni, nilai-nilai luhur, kebudayaan tradisonal milik Jawa akan tetap lestari dan di kembangkan.

Latar Belakang Pertunjukkan
            Kegiatan ini merupakan pentas rutin Swagayugama dalam mengisi paket wisata Keraton yang dilakukan di Bangsal Srimanganti setiap hari Minggu. Pentas dan pertunjukkan ini merupakan ajang aktualisasi bagi anggota sebagai pelestari kesenian tradisional Jawa Yogyakarta dan pengabdian terhadap Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat serta agar kebudayaan ini tidak mudah di klaim oleh Negara lain.

Tujuan Pertunjukkan
            Tujuan kegiatan ini adalah mewujudkan pengabdian terhadap Keraton Ngayogyakarta untuk mengisi paket wisata keratin di Bangsal Srimanganti.

Kegiatan
            Kegiatan ini dilakukan empat kali dalam setahun yang bertempat di Bangsal Srimanganti  Keraton Yogyakarta setiap hari Minggu pukul 10.00-12.00. Pentas ini di isi dengan repertoar berupa beksan yang diiringi langsung dengan gamelan komplit dengan paugeran yang telah di tentukan. 

Penampilan Pertunjukkan

1.      Tari Srimpi Pandhelori

Tari ini merupakan salah satu tari klasik gaya Yogyakarta mataraman yang di pertunjukkan oleh 4 orang penari sebagaimana asrti Serimpi itu sendiri yaitu empat. Nama Serimpi juga dikaitkan dengan akar kata “impi” yang menyaksikan tarian ini seolah terbawa mimpi. Tari ini mengambil kisah pertarungan antara Dewi Sudarawerti melawan Dewi Sirtupelaeli. Keduanya ingin menjadi istri Wong AgungJayanegara. Dalam pertarungan ini mereka sama sama kuat dan kemudian bersaudara menjadi istri Wong Agung Jayanegara.






 

2.      Klana Alus
Tari ini mengisahkan seorang Raja yang sedang jatuh cinta yaitu Prabu Dasalengkara kepada Dewi Siti satu krabat pandawa. Ekspresi cintanya tersebut diungkapkan dengan gerakan tarian Kalana Alus yang terkesan lembut serta bergelora.



           
 
3.       Beksan Menak (Rengganis >< Widaninggar)
Tarian ini mengisahkan peprangan antara Dewi Widaninggar yang berasal dari Koparman melawan Dewi Widaninggar yang berasal dari Tartaripura, Cina. Ia akan membalaskan dendamnya atas kematian kakaknya Dewi Adaninggar. Tarian ini memiliki gerakan seperti wayang golek serta mengambil cerita dari Hikayat Cinta







 

Lokasi dan Akses

            Lokasi pagelaran dan pertunjukkan ini berada di Bangsal Sri Manganti Keraton Yogyakarta. Akses untuk ke tempat tersebut sangat dengan mudah di tempuh dengan kendaraan umum karena berada di tengah jantung Kota Yogyakarta, tepatnya di daerah Alun-Alun Utara.

Tiket masuk dan Jadwal Pertunjukkan

  • Hanya membayar untuk tiket masuk ke Keraton Yogyakarta, sedangkan untuk melihat pertunjukkan tersebut tidak di pungut biaya. Untuk tiket masuk wisatawan domestic ke Keraton dipungut biaya Rp 5000 dan wisatawan mancanegara Rp 15.000
  • Jadwal Pertunjukkan : Setiap hari Minggu, pukul 10.00-12.00 WIB di Bangsal Sri Manganti.


Catatan 


Menurut saya, kegiatan pagelaran pementasan dan pertunjukkan Tari Klasik Gaya Yogyakarta dan karawitan yang di sediakan oleh Keraton kepada UKM Swagayugama ini sangat menarik dan bermanfaat sekali. Karena dengan adanya kegiatan ini, para mahasiswa dapat menyalurkan bakat maupun minat yang dapat di kembangkan melalui kegiatan tersebut. Selain itu, kegiatan ini dapat menghibur para wisatawan yang datang dan menyaksikan pementasan serta pertunjukkan tersebut. Kagiatan ini bagi saya juga dapat membangun semangat para generasi muda untuk lebih peduli dan melestarikan budaya tradisional khas Jawa agar nantinya tidak di klaim oleh Negara lain dan dapat menjadikan budaya Indonesia sebagai potensi pariwisata yang memberikan daya tarik tersendiri.