Minggu, 14 Desember 2014

SAPARAN BEKAKAK




Saparan Bekakak adalah sebuah acara rutin berupa kirab budaya yang rutin diselenggarakan setiap tahun di masyarakat Ambarketawang, Gamping Sleman Yogyakarta. Saparan bekakak di gelar pada bulan syafar. Upacara ini bermaksud untuk meminta permohonan keslamatan kepadasang pununggu gunung karena bencana longsor Gunung Gamping yang selalu terjadi pada bulan sapar.
 Di kisahkan bahwa setelah Keraton Yogyakarta selesai dibangun, maka Sri Sultan Hamengkubuwono I dan keluarga pindah ke Keraton. Mereka sebelumnya tinggal sementara di sebuah pesanggahan di Ambarketawang, Gamping. Abdi dalem yang melayani beliau selama di Ambarketawang Gamping yaitu Ki dan Nyai Wirosuto memohon izin untuk merawat ndalem kediaman Sultan Amabarketawang dan merawat binatang-binatang mereka yang sudah banyak. Pada saat itu, di bulan sapar terjadilah tanah longsor di Gunung Gamping. Peristiwa itu mengadan mengakibatkan 2 orang meninggal. Sultan sangat sedih kehilangan abdi dalemnya. Setahun berlalu, terjadilah peristiwa yang sama da mengakibatkan korban. Sultan memutuskan untuk bertapa di Gunung Gamping, sang penunggu gunung meminta Sultan untuk membuat upacara pengorbanan sang penggantin. Akan tetapi yang dilakukan mengelabuhi penunggu gunung dengan membuat sepasang pengantin tiruan dari tepung ketang dengan cairan gula jawa yang di buat mirip manusia. ternyata upacara ini membuahkan hasil tidak terjadi longsor dan timbul korban.
Bekakak sendiri berarti hewan atau manusia yang dijadikan sebagai persembahan. Persembahan itu berupa replika sepasang pengantin yang terbuat dari tepung ketan dancairan gula jawa. replika ini berarti simbol pengorbanan warga sekitar terhadap penunggu Gunung Gamping. Saat ini saparan bekakak, merupakan event budaya yang memiliki daya tarik untuk para wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta dengan menampilkan berbagai atraksi budaya seperti jahtilan, kesenia jogja, dll.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar