
Saparan Bekakak adalah sebuah acara rutin
berupa kirab budaya yang rutin diselenggarakan setiap tahun di masyarakat
Ambarketawang, Gamping Sleman Yogyakarta. Saparan bekakak di gelar pada bulan
syafar. Upacara ini bermaksud untuk meminta permohonan keslamatan kepadasang
pununggu gunung karena bencana longsor Gunung Gamping yang selalu terjadi pada
bulan sapar.
Di kisahkan bahwa setelah
Keraton Yogyakarta selesai dibangun, maka Sri Sultan Hamengkubuwono I dan
keluarga pindah ke Keraton. Mereka sebelumnya tinggal sementara di sebuah
pesanggahan di Ambarketawang, Gamping. Abdi dalem yang melayani beliau selama
di Ambarketawang Gamping yaitu Ki dan Nyai Wirosuto memohon izin untuk merawat
ndalem kediaman Sultan Amabarketawang dan merawat binatang-binatang mereka yang
sudah banyak. Pada saat itu, di bulan sapar terjadilah tanah longsor di Gunung
Gamping. Peristiwa itu mengadan mengakibatkan 2 orang meninggal. Sultan sangat
sedih kehilangan abdi dalemnya. Setahun berlalu, terjadilah peristiwa yang sama
da mengakibatkan korban. Sultan memutuskan untuk bertapa di Gunung Gamping,
sang penunggu gunung meminta Sultan untuk membuat upacara pengorbanan sang
penggantin. Akan tetapi yang dilakukan mengelabuhi penunggu gunung dengan
membuat sepasang pengantin tiruan dari tepung ketang dengan cairan gula jawa
yang di buat mirip manusia. ternyata upacara ini membuahkan hasil tidak terjadi
longsor dan timbul korban.
Bekakak
sendiri berarti hewan atau manusia yang dijadikan sebagai persembahan.
Persembahan itu berupa replika sepasang pengantin yang terbuat dari tepung
ketan dancairan gula jawa. replika ini berarti simbol pengorbanan warga sekitar
terhadap penunggu Gunung Gamping. Saat ini saparan bekakak, merupakan event
budaya yang memiliki daya tarik untuk para wisatawan yang berkunjung ke
Yogyakarta dengan menampilkan berbagai atraksi budaya seperti jahtilan, kesenia
jogja, dll.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar